Minggu, 08 Februari 2015

Dendam kesumat pada tikus




Tulisan ini saya tunjukan kepada siapa saja yang pernah bermasalah dengan mahluk nyebelin sekaligus pembawa masalah dan kebencian, binatang itu bernama “Tikus”. Mari kita selesaikan cerita ini dengan jantan.

Siapa yang tidak pernah melihat tikus? Jika tidak pernah, berarti Anda tidak tinggal di Jakarta. Semua warga Jakarta tahu betul mahluk menyebalkan ini, bahkan bisa ditemui di selokan, lemari, di loteng dan hampir di semua tempat dia eksis. Apalagi mereka yang hobinya berkebun, pasti foto tikus di tempel paling atas dan diberi tanda silang hehee… Nah cerita saya ini, karena saya juga salah satu penggiat komunitas Jakarta berkebun, yaitu komunitas keren  yang peduli terhadap lingkungan dan mempunyai misi mulia yaitu urban farming untuk mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia.

“Visi yang mulia Jakarta Berkebun itu dihalang oleh mahluk kurang ajar dan perusak bernama tikus.”

Pada bulan Agustus 2014 saya mendapatkan ijin dari ibu kost untuk menggunakan teras depan, untuk di tanam tanaman yang bisa di panen seperti cabai, tomat, selada dan pak coy. Kegembiaraan saya ini, saya rayakan dengan bernyanyi, menari, dan mentraktir teman-teman kost dengan capucino di gerai starbuck terdekat. Untuk mengawali hari-hari indah berkebun, yang ada di bayangan saya, (nanem cabai di pot tumbuh, panen, di bagi-bagi ke tetangga terus dapet ucapan terima kasih dan pujian dari tetangga) saya pun menaiki si sentot (motor butut saya) pergi ke toko Trubus membeli pot, benih dan kompos kemudian mulailah saya berkebun.

Untuk tanaman cabai, saya sengaja membeli cabai tua dari abang-abang ganteng penjual sayuran yang suka nyanyi-nyanyi tiap pagi di depan kost untuk saya gunakan menjadi benih. Setelah saya kupas, jemur, rendam, tibalah saatnya pembibitan. Benih cabai saya tempatkan di pot,  tiap hari saya beri percikan air cinta, dan saya pupuk dengan kasih sayang agar cabai ini tumbuh sehat dan menjadi anak yang soleh solihah (dikira manusia hahahaha…) sepuluh hari kemudian saya melihat benih sudah menjadi bibit dan siap di pindahkan di pot yang lebih besar. Daun sudah terlihat 4 helai dan saatnya melaksanakan pekerjaan mulia yaitu memberikan tempat yang lebih luas untuk bernafas kepada anak-anak cabai saya.

Satu hari, dua hari berlalu tanpa ada masalah yang berarti, hinga pada hari ketiga tiba-tiba petir menyambar-nyambar, angin bertiup kencang, mendung gelap dan tak henti-hentinya menangis. Iyah… itu pertanda buruk, anak-anak cabai saya tergeletak tak berdaya terpotong-potong berserakan. Saya diam seribu bahasa, tak lama darah dari jantungku naik ke otak dan saya teriak…. Kampreeeeet….!!! (Oh… maaf om kampret bukan maksudku memfitnahmu maksudku mengatai tikus, salah siapa nama kamu di jadikan hujatan manusia wek… *melet ). Mulai detik itu saya bersumpah tidak akan memaafkan tikus, saya harus lakukan segala cara untuk melindungi anak-anak cabai yang masih tersisa.

Kejadian seperti ini pernah juga terjadi sebelumnya saat saya masih duduk di bangku kelas 2 MA di kampung (Maderasah Aliyah *sekolah agama, makanya sekarang saya setengah ustadz). Singkat cerita saya dikasih lahan sekitar 1 hektar oleh almarhum kakek saya pada musim kemarau, karena pada musim kemarau tanah disawah menjadi tidak produktif karena tidak ada air.  Saya punya ide menanam kacang hijau, tiap hari saya rawat saya semprot pagi dan sore sebelum dan sesudah sekolah, dengan menggunakan seluruh tabungan saya dan waktu saya akhirnya tiba saat panen. Tapi sebelum panen itu terjadi si tikus jelek ini memenggal sebagian besar kacang hijau saya hingga saya rugi bandar, nyebelin ngak sih? saya sampai nangis loh.... ups! sebentar aja kok nangisnya.

Akhirnya saya menyusun strategi untuk memusnakan mahluk biadap itu. Iya… dengan jebakan tikus, racun, dan tentunya senapan angin. Pertma saya pesan online senapan angin dari bramasta (pembuat senapan angin dari Jawa Tengah), kemudian saya beli jebakan dan racun tikus di ACE hardware kemudian memasangnya disekitar kebun kecilku. Akhirnya konfrontasi yang ditakutkan seluruh dunia terjadi yaitu perang dunia ke III, tapi kali ini melawan tikus.

berikut adalah analisa militer pertempuran saya dengan tikus



Dor... dor... dor... saya menembakkan puluhan peluru timah ke arah tikus yang sedang menyerang kebon saya tepat pada jam 10 malam 21 oktober 2015. Suasana mencekam, darah dimana-mana, korban berjatuhan, inilah hasil dari sebuah peperangan yang tidak bisa dihindarkan. Tapi analisa militer saya meleset, jumlah personel mereka unpredictable, operasi malah hari tanpa batasan waktu, sedangkan saya harus tidur sesudah jam 12 malam. Sampai saat ini masih terjadi peperangan yang panjang, berbagai peperangan sudah terjadi tapi masih saja mereka belum habis.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar