Tulisan ini saya
tunjukan kepada siapa saja yang pernah bermasalah dengan mahluk nyebelin
sekaligus pembawa masalah dan kebencian, binatang itu bernama “Tikus”. Mari
kita selesaikan cerita ini dengan jantan.
Siapa yang tidak pernah
melihat tikus? Jika tidak pernah, berarti Anda tidak tinggal di Jakarta. Semua
warga Jakarta tahu betul mahluk menyebalkan ini, bahkan bisa ditemui di
selokan, lemari, di loteng dan hampir di semua tempat dia eksis. Apalagi mereka
yang hobinya berkebun, pasti foto tikus di tempel paling atas dan diberi tanda
silang hehee… Nah cerita saya ini, karena saya juga salah satu penggiat
komunitas Jakarta berkebun, yaitu komunitas keren yang peduli terhadap lingkungan dan mempunyai
misi mulia yaitu urban farming untuk
mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia.
“Visi yang mulia
Jakarta Berkebun itu dihalang oleh mahluk kurang ajar dan perusak bernama
tikus.”
Pada bulan
Agustus 2014 saya mendapatkan ijin dari ibu kost untuk menggunakan teras depan,
untuk di tanam tanaman yang bisa di panen seperti cabai, tomat, selada dan pak
coy. Kegembiaraan saya ini, saya rayakan dengan bernyanyi, menari, dan
mentraktir teman-teman kost dengan capucino di gerai starbuck terdekat. Untuk
mengawali hari-hari indah berkebun, yang ada di bayangan saya, (nanem cabai di
pot tumbuh, panen, di bagi-bagi ke tetangga terus dapet ucapan terima kasih dan
pujian dari tetangga) saya pun menaiki si sentot (motor butut saya) pergi ke toko
Trubus membeli pot, benih dan kompos kemudian mulailah saya berkebun.
Untuk tanaman
cabai, saya sengaja membeli cabai tua dari abang-abang ganteng penjual sayuran
yang suka nyanyi-nyanyi tiap pagi di depan kost untuk saya gunakan menjadi
benih. Setelah saya kupas, jemur, rendam, tibalah saatnya pembibitan. Benih
cabai saya tempatkan di pot, tiap hari
saya beri percikan air cinta, dan saya pupuk dengan kasih sayang agar cabai ini
tumbuh sehat dan menjadi anak yang soleh solihah (dikira manusia hahahaha…)
sepuluh hari kemudian saya melihat benih sudah menjadi bibit dan siap di pindahkan
di pot yang lebih besar. Daun sudah terlihat 4 helai dan saatnya melaksanakan
pekerjaan mulia yaitu memberikan tempat yang lebih luas untuk bernafas kepada
anak-anak cabai saya.
Satu hari, dua
hari berlalu tanpa ada masalah yang berarti, hinga pada hari ketiga tiba-tiba
petir menyambar-nyambar, angin bertiup kencang, mendung gelap dan tak
henti-hentinya menangis. Iyah… itu pertanda buruk, anak-anak cabai saya tergeletak
tak berdaya terpotong-potong berserakan. Saya diam seribu bahasa, tak lama
darah dari jantungku naik ke otak dan saya teriak…. Kampreeeeet….!!! (Oh… maaf
om kampret bukan maksudku memfitnahmu maksudku mengatai tikus, salah siapa nama
kamu di jadikan hujatan manusia wek… *melet ). Mulai detik itu saya bersumpah
tidak akan memaafkan tikus, saya harus lakukan segala cara untuk melindungi
anak-anak cabai yang masih tersisa.
Kejadian seperti
ini pernah juga terjadi sebelumnya saat saya masih duduk di bangku kelas 2 MA di
kampung (Maderasah Aliyah *sekolah agama, makanya sekarang saya setengah
ustadz). Singkat cerita saya dikasih lahan sekitar 1 hektar oleh almarhum kakek
saya pada musim kemarau, karena pada musim kemarau tanah disawah menjadi tidak
produktif karena tidak ada air. Saya
punya ide menanam kacang hijau, tiap hari saya rawat saya semprot pagi dan sore
sebelum dan sesudah sekolah, dengan menggunakan seluruh tabungan saya dan waktu
saya akhirnya tiba saat panen. Tapi sebelum panen itu terjadi si tikus jelek
ini memenggal sebagian besar kacang hijau saya hingga saya rugi bandar,
nyebelin ngak sih? saya sampai nangis loh.... ups! sebentar aja kok nangisnya.
Akhirnya saya
menyusun strategi untuk memusnakan mahluk biadap itu. Iya… dengan jebakan
tikus, racun, dan tentunya senapan angin. Pertma saya pesan online senapan
angin dari bramasta (pembuat senapan angin dari Jawa Tengah), kemudian saya
beli jebakan dan racun tikus di ACE hardware kemudian memasangnya disekitar
kebun kecilku. Akhirnya konfrontasi yang ditakutkan seluruh dunia terjadi yaitu
perang dunia ke III, tapi kali ini melawan tikus.
berikut adalah analisa militer pertempuran saya dengan tikus
Dor... dor...
dor... saya menembakkan puluhan peluru timah ke arah tikus yang sedang
menyerang kebon saya tepat pada jam 10 malam 21 oktober 2015. Suasana mencekam,
darah dimana-mana, korban berjatuhan, inilah hasil dari sebuah peperangan yang
tidak bisa dihindarkan. Tapi analisa militer saya meleset, jumlah personel
mereka unpredictable, operasi malah
hari tanpa batasan waktu, sedangkan saya harus tidur sesudah jam 12 malam.
Sampai saat ini masih terjadi peperangan yang panjang, berbagai peperangan
sudah terjadi tapi masih saja mereka belum habis.







