Kamis, 10 Desember 2015

Berkebun, Alternatif mengisi liburan di akhir pekan


 
      

     Saat akhir pekan tiba biasanya rekan-rekan berlomba-lomba menyusun kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan bersama keluarga tercinta. Berwisata ke puncak adalah salah satu yang biasa dipilih, atau mengunjungi mall-mall  yang ada di Jakarta. Jika akhir pekan rekan-rekan tidak diperhitungkan secara benar, bisa jadi kegiatan-kegiatan tersebut bisa menguras kantong rekan-rekan semua. Mulai dari transportasi, biaya makan, sampai biaya menginap adalah kebutuhan liburan yang wajib dikeluarkan. Lalu bagaimana jika ada jenis  kegiatan lain yang bisa menjadi alternatif untuk mengisi akhir pekan yang murah, menyenagkan dan menyehatkan?


Berkebun bisa menjadi pilihan rekan-rekan untuk mengisi akhir pekan. selain sehat dan murah, berkebun juga mempunyai banyak manfaatnya antara lain:
  1. Mendekatkan diri kepada Tuhan dan lebih mengenal lingkungan
  2. Menjadikan kita lebih sabar, karena kita menumbuhkan tanaman dari benih sampai dengan panen memerlukan kesabaran setiap harinya.
  3. Menyehatkan tubuh kita, karena dengan berkebun kita mendapat sinar matahari dan menjadikan kita banyak bergerak.
  4. Mendapatkan sayuran yang sehat. Tanaman yang kita tanam akan menjadi sumber makanan utnuk tubuh kita sendiri, sehingga kita benar-benar memperhatikan kandungan nutrisi tanaman tersebut.
  5. Melatih anak-anak akan tanggung jawab. Dengan memberi tugas kepada anak-anak kita untuk menyiram tanaman dan merawat tanaman sampai dengan panen
  6. Bisa membatu kebutuhan rumah tangga.  Dengan berkebun bisa mengurangi kebutuhan dapur karena sebagian bisa mengambil dari hasil kebun rumah sendiri.

Berkebun tidak selalu membutuhkan lahan yang luas, rekan-rekan bisa memanfaatkan balkon, teras ataupun rooftop rumah, menanam di pot dan menanam dengan teknik verticulture bisa menjadi solusi lahan sempit, Pot bisa di beli di toko-toko pertanian terdekat atau rekan-rekan juga bisa membuat pot dari bahan-bahan bekas seperti kaleng susu, kaleng cat dan botol air mineral.

Selain itu rekan-rekan juga bisa bergabung dengan komunitas urban farming seperti Jakarta Berkebun, Komunitas ini mempunyai misi memanfaatkan lahan yang mati atau terbengkalai untuk diolah dengan cara di tanam tanaman yg bisa berguna bagi masyarakat sekitar. Untuk info teman-teman bisa follow twitter nya di @JktBerkebun, biasanya setiap minggu mengadakan kegiatan rawat kebun komunitas. Bagi Anda yang di luar Jakarta bisa follow twitter @IDberkebun untuk mencari tau apakah daerah Anda sudah mempunyai jejaring seperti Jakarta Berkebun.

Untuk membuat media tanam rekan-rekan bisa menggunakan tanah, pupuk kandang/kompos dan sekam bakar. Ketiga bahan tersebut dicampur jadi satu dengan perbandingan 1:1:1, bahan-bahan tersebut bisa dibeli di toko pertanian terdekat. Untuk pembahasan lebih lengkap mengenai mengolah media tanam akan di bahas di tulisan berikutnya, jangan sampai terlewatkan ya!...





Rawat kebun Jakarta Berkebun twitter @JktBerkebun


Sabtu, 15 Agustus 2015

Dua Jompo menyasarkan diri....

Dalam postingan Kali ini ulah saya sebagai jompo yang menyandang predikat jomblo bersama teman saya yang kebetulan jomblo juga bernama Yono (bukan nama sebenernya), kebetulan dia lebih tua dari saya jadi saya merasa lebih terhormat dari dia sebagai sesama jomblo, hahaha.... Becanda ya Pak Yono... Hihihi....

Singkat kata kedua jompo ini ingin menghadiri pesta perkawinan teman kami yg bernama Widodo di daerah Citayam, jam 11 kami sudah siap dengan perlengkapan nampang, dari baju andalan sampai celana yang menurut saya sedikit jadul tapi keren, maklum kami sudah berniat nampang di acara kawinan teman kami "kali aja ada teteh-teteh nyangkol kan lumayan hihihihi.... Dengan menaiki ojek, bak seperti dua jompo calon mentri yg segera dilantik di istana negara nangkring sampai stasiun manggarai.

Gaya sih boleh, namun kami tiba-tiba di bingungkan dengan suatu kondisi gimana caranya masuk menuju kereta... Tanya sana-sini, ribut yg satu kemana yang satu kemana sesekali ngaku anaknya kapolres tapi ngak di gubris, sok...sok keluarin kartu ATM platinum di loket tapi ngak mempan, akhirnya dua jompo ini mengantre panjang untuk mendapatkan kartu.
Keributan belum juga berakhir, karena kami salah jalur sampai undangan yang ada alamatnnya teman kami menikah, lagi-lagi telpon sana-sini BBM sana sini ngak ada balasan kedua jompo ini memutuskan wisata kuliner ke Bogor, kami turun dari kereta lalu menuju pintu keluar tiba2 kartu kami tidak berfungsi. Satpam dengan wajah serem menghampiri kami Dan kami pun dapat omelan indah dari si bapak satpam karena kami seharusnya turun di citayam, alhasil kartu kami disita... Sukuriiin....

Di taman topi kami makan es doger, cilok, asinan, batagor Dan es duren, dua jompo ini serasa ngak punya dosa. Alhamdulillah ada balasan dari teman kost kami yang mengirimkan denah lokasi tempat teman kami menikah. Kami langsung cus.... Ke citayam Dan menghadiri perkawinan teman kami Widodo....

Ini foto-foto jompo geblek hari ini




Minggu, 08 Februari 2015

Dendam kesumat pada tikus




Tulisan ini saya tunjukan kepada siapa saja yang pernah bermasalah dengan mahluk nyebelin sekaligus pembawa masalah dan kebencian, binatang itu bernama “Tikus”. Mari kita selesaikan cerita ini dengan jantan.

Siapa yang tidak pernah melihat tikus? Jika tidak pernah, berarti Anda tidak tinggal di Jakarta. Semua warga Jakarta tahu betul mahluk menyebalkan ini, bahkan bisa ditemui di selokan, lemari, di loteng dan hampir di semua tempat dia eksis. Apalagi mereka yang hobinya berkebun, pasti foto tikus di tempel paling atas dan diberi tanda silang hehee… Nah cerita saya ini, karena saya juga salah satu penggiat komunitas Jakarta berkebun, yaitu komunitas keren  yang peduli terhadap lingkungan dan mempunyai misi mulia yaitu urban farming untuk mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia.

“Visi yang mulia Jakarta Berkebun itu dihalang oleh mahluk kurang ajar dan perusak bernama tikus.”

Pada bulan Agustus 2014 saya mendapatkan ijin dari ibu kost untuk menggunakan teras depan, untuk di tanam tanaman yang bisa di panen seperti cabai, tomat, selada dan pak coy. Kegembiaraan saya ini, saya rayakan dengan bernyanyi, menari, dan mentraktir teman-teman kost dengan capucino di gerai starbuck terdekat. Untuk mengawali hari-hari indah berkebun, yang ada di bayangan saya, (nanem cabai di pot tumbuh, panen, di bagi-bagi ke tetangga terus dapet ucapan terima kasih dan pujian dari tetangga) saya pun menaiki si sentot (motor butut saya) pergi ke toko Trubus membeli pot, benih dan kompos kemudian mulailah saya berkebun.

Untuk tanaman cabai, saya sengaja membeli cabai tua dari abang-abang ganteng penjual sayuran yang suka nyanyi-nyanyi tiap pagi di depan kost untuk saya gunakan menjadi benih. Setelah saya kupas, jemur, rendam, tibalah saatnya pembibitan. Benih cabai saya tempatkan di pot,  tiap hari saya beri percikan air cinta, dan saya pupuk dengan kasih sayang agar cabai ini tumbuh sehat dan menjadi anak yang soleh solihah (dikira manusia hahahaha…) sepuluh hari kemudian saya melihat benih sudah menjadi bibit dan siap di pindahkan di pot yang lebih besar. Daun sudah terlihat 4 helai dan saatnya melaksanakan pekerjaan mulia yaitu memberikan tempat yang lebih luas untuk bernafas kepada anak-anak cabai saya.

Satu hari, dua hari berlalu tanpa ada masalah yang berarti, hinga pada hari ketiga tiba-tiba petir menyambar-nyambar, angin bertiup kencang, mendung gelap dan tak henti-hentinya menangis. Iyah… itu pertanda buruk, anak-anak cabai saya tergeletak tak berdaya terpotong-potong berserakan. Saya diam seribu bahasa, tak lama darah dari jantungku naik ke otak dan saya teriak…. Kampreeeeet….!!! (Oh… maaf om kampret bukan maksudku memfitnahmu maksudku mengatai tikus, salah siapa nama kamu di jadikan hujatan manusia wek… *melet ). Mulai detik itu saya bersumpah tidak akan memaafkan tikus, saya harus lakukan segala cara untuk melindungi anak-anak cabai yang masih tersisa.

Kejadian seperti ini pernah juga terjadi sebelumnya saat saya masih duduk di bangku kelas 2 MA di kampung (Maderasah Aliyah *sekolah agama, makanya sekarang saya setengah ustadz). Singkat cerita saya dikasih lahan sekitar 1 hektar oleh almarhum kakek saya pada musim kemarau, karena pada musim kemarau tanah disawah menjadi tidak produktif karena tidak ada air.  Saya punya ide menanam kacang hijau, tiap hari saya rawat saya semprot pagi dan sore sebelum dan sesudah sekolah, dengan menggunakan seluruh tabungan saya dan waktu saya akhirnya tiba saat panen. Tapi sebelum panen itu terjadi si tikus jelek ini memenggal sebagian besar kacang hijau saya hingga saya rugi bandar, nyebelin ngak sih? saya sampai nangis loh.... ups! sebentar aja kok nangisnya.

Akhirnya saya menyusun strategi untuk memusnakan mahluk biadap itu. Iya… dengan jebakan tikus, racun, dan tentunya senapan angin. Pertma saya pesan online senapan angin dari bramasta (pembuat senapan angin dari Jawa Tengah), kemudian saya beli jebakan dan racun tikus di ACE hardware kemudian memasangnya disekitar kebun kecilku. Akhirnya konfrontasi yang ditakutkan seluruh dunia terjadi yaitu perang dunia ke III, tapi kali ini melawan tikus.

berikut adalah analisa militer pertempuran saya dengan tikus



Dor... dor... dor... saya menembakkan puluhan peluru timah ke arah tikus yang sedang menyerang kebon saya tepat pada jam 10 malam 21 oktober 2015. Suasana mencekam, darah dimana-mana, korban berjatuhan, inilah hasil dari sebuah peperangan yang tidak bisa dihindarkan. Tapi analisa militer saya meleset, jumlah personel mereka unpredictable, operasi malah hari tanpa batasan waktu, sedangkan saya harus tidur sesudah jam 12 malam. Sampai saat ini masih terjadi peperangan yang panjang, berbagai peperangan sudah terjadi tapi masih saja mereka belum habis.





Jumat, 06 Februari 2015

Berkebun Sup Sayur di Club kembang bersama Jakarta Berkebun



Masa kecil adalah masa yang paling indah, mungkin itu yang terlintas di pikiran kita saat mengingat masa kecil yang penuh dengan keceriaan dan permainan. Nah apa jadinya jika aktifitas bermain disisipi dengan berkebun tentu ini akan jadi beda ya… Anak-anak yang berumur 3-10 tahun mengisi kegiatan bermain dengan belajar berkebun bersama Komunitas Jakarta berkebun. Tak tanggung-tanggung mereka langsung mempraktekan megolah tanah, membuat kompos, pestisida dan memanen kemudian memasak bersama-sama… asyik bukan? Acara yang digagas komunitas Jakarta berkuebun berteme “Berkebun Sup Sayur”  bekerja sama dengan Club Kembang ini berlangsung dari bulan September sampai dengan Desember 2014 di tempat bermain Club Kembang, Kemang Jakarta Selatan.

Pada bulan September para adik-adik peserta Berkebun Sop Sayur di ajari bagaimana mengolah media tanam yang baik. Peserta langsung mempraktekkan mencapur tanah, kompos dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1:1, lalu di media tanam itu di tanam kangkung, wortel dll. Kemudian pada sesi akhir peserta bisa membawa pulang tanaman yang sudah mereka tanam tadi kerumah. Antusiasme tinggi dari peserta membuat para kakak-kakak Jakarta berkebun semankin semangat.

Pada bulan Oktober adalah membuat kompos, para peserta di ajari bagaimana memisahkan sampah organic dan sampah anorganic. Sampah organic ini nantinya yang  akan diproses oleh peserta menjadi pupuk kompos.  Sebelum memulainya anak-anak di bagikan sticker lucu untuk ditempel pada komposter. komposter yaitu alat yang sudah dirancang khusus untuk pembuatan pupuk kompos. Sampah organic dipisahkan kemudian dipotong kecil-kecil kemudian dimasukkan kedalam komposter, lalu disemprot dengan MOL (Mikro Organisme Local) yaitu cairan hasil penguraian sampah organic menjadi pupuk kompos. Pada akhir acara peserta mendapat modul dan MOL untuk dibawa pulang kerumah.

Pada bulan November para peserta di ajarkan bagaimana membuat pestisida organic. Peserta di beri informasi mengenai penyakit-penyakit yang biasa timbul pada tanaman dan hama-hama yag biasa menyerang tanaman, lalu dibagikan bahan-bahan untuk membuat pupuk organic seperti daun papaya dan sambiloto. Kemudian peserta dibagikan sprayer untuk selanjutnya digunakan praktek menyemprot tanaman-tanaman yang sedang sakit. Di akhir acara peserta mendapat modul dan sprayer untuk dibawa pulang.

Bulan Desember adalah bulan yang paling special di rangkaian acara berkebun Sup Sayur di Club Kembang ini, yap… Panen dan memasaknya bersama-sama. Pertama-tama para peserta diajak mengingat kembali pelajaran sebelumnya kemudian diajak ke kebon memanen tanaman-tanaman yang sudah di tanam pada bulan September lalu. Kemudian mereka mencuci dan memotong wortel, seledri,tomat, kentang dll. Dengan instruksi chef Puti Safira peserta bersama-sama memaksukkan bahan-bahan kedalam panci untuk membuat sup. “Nah… Sup nya udah siaap…” teriak Chef Puti Safira, kemudian anak-anak berbaris menunggu giliran mendapatkan sup hasil kebon bersama. “Wah enak… aku mau nambah…” cetus salah satu peserta Berkebun Sup Sayur. Pada sesi acara para peserta dibagikan buku resep membuat sup untuk di praktekkan bersama orang tua masing-masing di rumah.

Komunitas Jakarta Berkebun adalah komunitas yang berfokus pada urban farming. Informasi mengenai Jakarta berkebun teman-teman bisa follow twitternya @JktBerkebun






Foto by Puti Safira