Minggu, 01 Mei 2016

EWINDO LATIH PULUHAN TRAINER URBAN FARMING



Indonesia adalah Negara agraris yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani, namun ironisnya Indonesia masih mengimpor produk-produk pertanian dari Negara lain. Tingkat pertumbuhan dan konsumsi masyarakat tidak disertai dengan perluasan area pertanian, akibatnya banyak para petani yang tidak mempunyai lahan pertanian, pada akhirnya  terjadi peningkatan angka pengangguran dan masalah urbanisasi. Atas dasar itulah ewindo tergerak untuk membuat program MGTP (Master Gardening Training Program) sebagai upaya untuk mencapai Indonesia mandiri pangan.

MGTP adalah suatu program yang di gagas Ewindo untuk melatih calon-calon trainer untuk menyebarkan pengetahuan mengenai urban farming dan meningkatkan minat masyarakat untuk bercocok tanam. Para peserta dibekali berbagai ilmu pertanian yang di mentori oleh Professor Benny Tjhia seorang praktisi pertanian yang sangat berpengalaman. Pelatihan ini berlangsung selama enam hari yang dilakukan ditempat yang terpisah setiap sesinya di daerah Jakarta dan Depok.
Hari Pertama peserta dibekali dengan pemahaman mengenai tujuan program MGTP dan merubah mindset peserta tentang urban farming serta mitos-mitos yang sudah menyebar di masyarakat dalam bercocok tanam. Peserta juga dibekali tahapan-tahapan menanam dari penyiapan lahan, perawatan sampai dengan panen. Peserta juga lebih mengerti tentang zona dan tanaman yang cocok untuk ditanam di daerah yang berbeda.

Hari Kedua Peserta belajar memahami tanaman rumahan, kali ini peserta dibekali dengan pengetahuan rumput. Pengetahuan rumput sangat penting dalam urban farming selain untuk mempercantik desain demplot ternyata rumput banyak sekali manfaatnya seperti mengurangi penguapan dan membantu penyerapan air saat hujan. Selain rumput peserta juga diberi pengetahuan cara pembuatan kompos sekala rumahan, dari memilah sampai aplikasi pada tanaman.

Hari Ketiga, Peserta  belajar tentang tanaman semusim. Peserta sanggup membedakan tanaman-tanaman yang cocok ditanam pada musim dan zona tertentu. Hal ini penting karena para peserta dituntut untuk mengerti tanaman apa saja yang cocok ditanam didataran rendah dan dataran tinggi baik pada musim kemarau ataupun penghujan. Melihat kultur di Indonesia yang memiliki berbagai musim dan daerah yang sangat berbeda sekali keadaan iklimnya, peserta perlu memahami betul-betul tanaman yang bisa ditanam disuatu tempat agar menghasikan hasil panen yang maksimal.

Hari Keempat lebih spesifik mengenai tentang sayuran di daerah tropis seperti Indonesia. Pada sesi ini banyak yang dipelajari peserta mengenai sayur yang cocok ditanam untuk skala rumah. Peserta belajar dari persiapan, perawatan, penanganan hama sampai panen. Pada sesi ini peserta juga belajar mengenai nematode, bagaimana cara mengolah tanah yang bebas nematoda dengan berbagai option dipaparkan secara gamblang oleh Pak Benny Tjhia.

Hari Kelima peserta belajar mengenai pemupukan tanaman, peserta belajar mengukur pupuk secara tepat sesuai kebutuhan tanaman dan aplikasi yang efisien. Pengetahuan pemupukan sangat penting bagi peserta karena pemupukan adalah fase krusial dalam proses pertumbuhan tanaman.
Di hari terakhir peserta melakukan post test dan membahas pelajaran-pelajaran yang sudah dijalani sebelumnya. Dengan demikian selesai sudah program enam hari Master Gardening Program yang diselenggarakan oleh Ewindo sebagai bentuk kepedulian terhadap urban farming Indonesia.
Indonesia perlu meningkatkan lagi kualitas urban farming sebagai upaya menambal kekurangan lahan pertanian di Indonesia, dengan begitu diharapkan masyarakat Indonesia bisa mandiri pangan setidaknya di skala rumah tangga sendiri.


Senin, 29 Februari 2016

Berkebun di lahan sempit


Berkebun tidak selalu memerlukan lahan yang luas, cukup dengan memanfaatkan area yang ada di rumah Anda seperti balkon, teras dan rooftop. Area tersebut bisa dimanfaatkan untuk menanam sayur dengan cara system pot dan vertikultur. Vertikultur adalah cara menanam dengan menyusun tanaman keatas sehingga bisa memaksimalkan tempat agar bisa menampung tanaman lebih banyak. Lalu apa yang harus diperhatikan sebelum memulai berkebun di lahan yang sempit?
  1. Pastikan area yang ingin Anda gunakan untuk menanam terkena sinar matahari langsung setidaknya 5-6 jam dalam sehari.
  2. Pastikan area tersebut jauh dari sumber polusi
  3. Buatlah sumber air yang dekat dengan area tempat Anda menanam, hal ini untuk mempermudah saat Anda ingin menyiram tanaman.

Setelah syarat diatas terpenuhi barulah Anda bisa membeli atau membuat sendiri alat-alat yang dibutuhkan. Apa sih alat yang dibutuhkan untuk berkebun dilahan sempit?
  1. Pot sebagai penampung media tanam
  2. Skop dan garpu tanah untuk mengolah media tanam
  3. Gembor atau sprayer untuk meniram tanaman
  4. Benih tanaman



Alat-alat diatas bisa dibeli di toko pertanian terdekat, Namun jika Anda tidak mempunyai cukup biaya alat-alat diatas bisa diganti dengan barang-barang bekas seperti Kaleng susu, botol bekas, kemasan minyak sayur sebagi pengganti pot, lalu scop dan garpu bisa diganti dengan kayu atau cukup menggunakan tangan untuk mengolah media tanam. Sedangkan untuk menyiram tanaman bisa memanfaatkan kaleng bekas yang sudah di buat lubang dibagian bawahnya menggunakan paku, semua tergantung kreativitas teman-teman. Sedangkan media tanam terdiri dari:
  1. Tanah
  2. Pupuk Kandang
  3.  Sekam bakar
  4. Asam Humat dan Pupuk Organik Cair (Optional)






Campurkan tanah, pupuk kandang, sekam bakar dengan perbandingan 1:1:1 secara merata lalu masukkan kedalam pot. Setelah itu taburkan benih diatas media tanam yang sudah dimasukkan kedalam pot tadi. Untuk perawatan siram tanaman 2 kali sehari, pagi sebelum jam 10 sedangkan sore setelah jam 3 sore. Lakukan penyiraman dan perawatan secara rutin ya…. Untuk, fungsi media tanam, perawatan, penyemaian akan di bahas di artikel yang akan datang. Jangan sampai ketinggalan ya…

berikut adalah referensi bertanam dengan sistem vertikultur






Foto by Indonesia Berkebun